Selasa, 01 Mei 2012

Kecewaa beraaaattt..........!!

Mungkin sebaiknya memang kita tidak boleh berharap terlalu banyak pada film-film adaptasi dari novel. Apalagi kalau novel itu sudah 'tumbuh besar' bersama kita..

Awal saya baca novel Harry Potter itu,,kelas 1 SMP, di perpustakaan sekolah kan ada tu bukunya. Tapi seinget saya, yang saya baca pertama kali itu buku keduanya "The Chamber of Secrets". Nah, setelah penasaran gimana awalnya sampai bisa jadi begitu,saya pinjem deh buku pertamanya. Alhasil,,buku ketiga,keempat,dst saya beli sendiri. Entah pake uang sendiri, atau hasil ngerayu ortu n kakak2. Hehehe. Maklum,setelah saya keranjingan dunia sihirnya JK Rowling, saya berhasil mempengaruhi kakak saya untuk ikutan gandrung. Dan saya sukses dalam hal itu. Kakak saya bahkan lebih lebay karena sering membeli pernak-pernik Harry Potter. Kalau saya sih cukup menebeng saja. Hahaha.

Sekitar dua-tiga tahun setelah saya pertama 'mengenal' The Boy who Lived itu, baru deh muncul gaungnya kalau banyak produser film yang mau memvisualisasikan imajinasi seorang single mother yang menulis awal kisah Harry Potter di sebuah kedai kopi sambil menjaga anaknya yang masih bayi. Pertama denger,,excited banget!! Waaa,,,seru kali yaa ngeliat semua yang saya bayangkan selama ini bakalan jadi nyata. Hohohoho. Okay, I'm ready for the first blow...

Well then, film Harry Potter pertama "The Sorcerer's Stone" bagus. Saya puas. Sempat terkagum-kagum sama niat para sineas film Inggris yang udah habis-habisan mengnggarap film pertama supaya orang mulai memperhatikan bahwa sihir itu ada, dalam dunia Harry tentunya. Ternyata emang niat mereka bikin film bagus. Yaah,,walaupun sana-sininya ada yang kurang cocok dengan novelnya. Tapi kalau saya mau 'nonton' novelnya, buat apa saya duduk di bioskop? Haha.   

Jadilah, setiap sekuel Harry Potter keluar, saya merasa wajib untuk menontonnya di bioskop. Entah karena euforia orang2, atau karena memang itu termasuk daftar 'film wajib tonton di bioskop' saya. Kalau boleh ngomong sih, ya karena saya merasa 'dekat' dengan novelnya. Hah. Mungkin jadinya saya merasa berhak mengkritik atau memuji.

Sejauh ini,,menurut saya, film sekuel Harry Potter yang paling bagus adalah film pertamanya. Dari segi cerita, masih mengikuti alur dan elemen of surprisenya dapet lah. Makin kesini, film-film Harry Potter semakin beda dengan bukunya. Ada baiknya juga, agar para pembaca novelnya tidak bosan karena dapat menebak detail ceritanya. Namun kemudian dengan adanya perubahan disana-sini, saya bersyukur karena saya membaca novel Harry Potter jauh sebelum saya menonton filmnya. Jadi kapanpun saya membaca novelnya kembali, dunia sihir saya tetap utuh dan sama seperti dunia yang diciptakan oleh otak anak usia 13 tahun, pertama kali saya membacanya. Dan kemudian berkembang seiring bertambahnya kedewasaan saya.

"Harry Potter and The Deathly Hallows Part 2". Wow. Finally, it comes to an end. Saya sedih harus berpisah dengan Daniel Radcliffe yang selama 10 tahun terakhir ini menjadi Harry Potter dengan apiknya. (Walaupun harus saya akui, anehnya saya tidak pernah memproyeksikan wajah karakter Harry Potter sebagai si Tampan Dan). Bisa dibayangkan besarnya ekspektasi saya sebagai penggemar setianya selama kurang lebih 1 dekade. Apalagi dengan adanya masalah bea cukai sinema Indonesia sehingga Harry Potter masuk ke 21 lebih lama dari yang dijadwalkan di seluruh dunia. Tapi saya menunggu. Dan akhirnya, bisa nonton juga.

The epic conclusion. Menurut saya, conclusionnya dapet lah, tapi epic? Tunggu dulu. Mungkin budgetnya kurang sehingga adegan perang yang sedianya sangat menghebohkan dan menggemparkan saya rasa 'kurang matang'. Atau mungkin saja memang perang yang benar-benar heboh itu hanya bisa terjadi di dalam kepala saya.

Yang sangat saya sayangkan adalah tidak diungkapnya masa lalu dan kerumitan kisah hidup panutan Harry Potter dan sebagian besar komunitas sihir, Prof. Albus Dumbledore. Padahal menurut saya, disitulah inti dan moral dari novel best seller yang mendunia ini. Entahlah. Ini hanya sedikit dari carut-marutnya pemikiran yang ada di otak saya. Apalah arti opini seorang saya, yang 'hanya' mengagumi karya ini dan tumbuh besar dengan imajinasi akan adanya dunia sihir di jaman serba mutakhir ini...


Even in Part Two, which does an able job at tying up most of the loose ends, the backstory involving Dumbledore (Michael Gambon) and his brother (Ciaran Hinds) isn’t properly disentangled, while the romance between Ron and Hermione is laughably unconvincing. The 3D version, needless to say, is an expensive frivolity. (http://www.telegraph.co.uk/culture/harry-potter/8637540/Harry-Potter-and-the-Deathly-Hallows-Part-2-review.html)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar