Selasa, 01 Mei 2012

"Surat untuk Aku"

Bagi sebagian orang,,memperoleh pekerjaan yang benar-benar cocok dan sesuai itu nyaris mustahil. Bagi saya,,semua itu relatif. Cocok menurut siapa? Sesuai dengan apa? Pertanyaan2nya akan terus berlanjut dan tak akan ada habisnya.

Saya pernah mendengar bahwa,, di dunia ini, menjadi pintar saja tidaklah cukup. Banyak sekali faktor pendukung lain yang menentukan keberhasilan dan kemajuan dalam berkarir. Salah satunya adalah faktor keberuntungan. Hah. Ironis memang. Orang yang beruntung akan memiliki peluang dan celah yang tidak dimiliki orang pintar. Akan lebih baik lagi kalau orang itu pintar dan beruntung.

Saya bukan orang pintar, tapi saya bersyukur bahwa Allah selalu memberikan keberuntungan untuk saya. Pekerjaan yang saya geluti sekarang bukanlah pekerjaan yang selama ini saya impikan. Lagipula, apa gunanya memimpikan sesuatu yang kita sendiri tak tahu apakah kita benar2 menginginkannya? Oleh karena itu, saya tak berhenti bersyukur atas apa yang telah Allah tunjukkan untuk saya. Mungkin memang itu yang paling baik.

Menjadi sekretaris tak pernah sekelibatpun melintas dalam pikiran saya sebelumnya. Saya yakin tugas seorang sekretaris sangatlah berat dan menyita waktu. Kalau saya ini diri saya yang dulu,,saya jelas akan berpikir "buat apa jadi sekretaris? mendingan jadi ketuanya aja sekalian.. hahaha.."
Tapi saya bukanlah lagi anak manja dan egois itu. Saya sudah mulai belajar untuk beradaptasi. Saya belajar mendisiplinkan dan mendewasakan diri saya. Saya belajar merenung, menimbang, dan berpikir jauh ke depan.

Tantangan dan kesulitan sudah menghadang di sana. Saya, rapuh dan takut2, mencoba melangkah dan berpikir. Namun kemudian ada suara kecil yang berbisik "enough with the thinking, you idiot! you've thought enough. now it's the time to make decision. make a big step and then run!!"
Dan disinilah saya. Mencoba berlari2 kecil mengejar ketinggalan. Ketika halangan dan rintangan itu saya rasa tidak mengganggu, saya akan berlari. Saya akan melaju. Dan saat saya hapal semua jalan, saya yakinkan diri untuk mencoba mengepakkan sayap. Tidak besar, tapi cukup untuk terbang.

Rasa lelah dan galau mungkin nantinya akan membuat saya memperlambat langkah, bahkan berhenti dan beristirahat. Tapi tidak lama, kawan. Hanya sekedar menarik napas dan mengaturnya agar tak membuat sesak dada ini. Saya akan kembali berjalan, berlari2 kecil, berlari kencang, dan terbang. Karena saya mengerti benar bahwa sayap ini tak sabar untuk mengangkasa.....


Samarinda,16 Juli 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar