Bagi sebagian orang,,memperoleh pekerjaan yang benar-benar cocok dan
sesuai itu nyaris mustahil. Bagi saya,,semua itu relatif. Cocok
menurut siapa? Sesuai dengan apa? Pertanyaan2nya akan terus berlanjut
dan tak akan ada habisnya.
Saya pernah mendengar bahwa,,
di dunia ini, menjadi pintar saja tidaklah cukup. Banyak sekali
faktor pendukung lain yang menentukan keberhasilan dan kemajuan dalam
berkarir. Salah satunya adalah faktor keberuntungan. Hah. Ironis
memang. Orang yang beruntung akan memiliki peluang dan celah yang tidak
dimiliki orang pintar. Akan lebih baik lagi kalau orang itu pintar dan
beruntung.
Saya bukan orang pintar, tapi saya bersyukur
bahwa Allah selalu memberikan keberuntungan untuk saya. Pekerjaan yang
saya geluti sekarang bukanlah pekerjaan yang selama ini saya impikan.
Lagipula, apa gunanya memimpikan sesuatu yang kita sendiri tak tahu
apakah kita benar2 menginginkannya? Oleh karena itu, saya tak berhenti
bersyukur atas apa yang telah Allah tunjukkan untuk saya. Mungkin
memang itu yang paling baik.
Menjadi sekretaris tak
pernah sekelibatpun melintas dalam pikiran saya sebelumnya. Saya yakin
tugas seorang sekretaris sangatlah berat dan menyita waktu. Kalau saya
ini diri saya yang dulu,,saya jelas akan berpikir "buat apa jadi sekretaris? mendingan jadi ketuanya aja sekalian.. hahaha.."
Tapi
saya bukanlah lagi anak manja dan egois itu. Saya sudah mulai belajar
untuk beradaptasi. Saya belajar mendisiplinkan dan mendewasakan diri
saya. Saya belajar merenung, menimbang, dan berpikir jauh ke depan.
Tantangan
dan kesulitan sudah menghadang di sana. Saya, rapuh dan takut2,
mencoba melangkah dan berpikir. Namun kemudian ada suara kecil yang
berbisik "enough with the thinking, you idiot! you've thought enough. now it's the time to make decision. make a big step and then run!!"
Dan
disinilah saya. Mencoba berlari2 kecil mengejar ketinggalan. Ketika
halangan dan rintangan itu saya rasa tidak mengganggu, saya akan
berlari. Saya akan melaju. Dan saat saya hapal semua jalan, saya
yakinkan diri untuk mencoba mengepakkan sayap. Tidak besar, tapi cukup
untuk terbang.
Rasa lelah dan galau mungkin nantinya akan
membuat saya memperlambat langkah, bahkan berhenti dan beristirahat.
Tapi tidak lama, kawan. Hanya sekedar menarik napas dan mengaturnya
agar tak membuat sesak dada ini. Saya akan kembali berjalan, berlari2
kecil, berlari kencang, dan terbang. Karena saya mengerti benar bahwa
sayap ini tak sabar untuk mengangkasa.....
Samarinda,16 Juli 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar